Kesehatan mental anak dan remaja menjadi salah satu perhatian dalam pelayanan psikologis klinis di Puskesmas Cipadung. Beragam persoalan yang ditemui dalam layanan menunjukkan pentingnya peran keluarga dalam mengenalkan, memahami, dan memvalidasi emosi sejak anak berada di lingkungan rumah.
Psikolog Puskesmas Cipadung, Delis Larasaty Putri mengatakan, persoalan yang dihadapi pasien cukup beragam. Namun, persoalan rumah tangga menjadi salah satu yang paling banyak ditemui, disusul permasalahan pada anak dan remaja.
Menurut Delis, pada anak, persoalan yang muncul antara lain berkaitan dengan tumbuh kembang. Sedangkan pada remaja, tantangan banyak berkaitan dengan fase pencarian jati diri dan pengaruh lingkungan.
Delis menilai, salah satu hal mendasar yang perlu diperkuat adalah kemampuan keluarga dalam memvalidasi emosi anak.
Menurutnya, pengenalan emosi pertama kali seharusnya dimulai dari rumah karena orang tua merupakan lingkungan pendidikan pertama bagi anak.
“Guru pertama kita adalah orang tua,” ujar Delis pada Kamis, 15 Oktober 2026.
Ia menjelaskan, validasi emosi bukan berarti membenarkan seluruh tindakan anak. Validasi dilakukan dengan terlebih dahulu memahami apa yang dirasakan anak, kemudian membantu mereka mengenali dan mengelola emosi tersebut.
Sebagai contoh, ketika seorang anak menangis karena mengalami sesuatu yang tidak menyenangkan, orang tua dapat menanyakan apa yang terjadi dan apa yang dirasakan anak.
Dengan cara tersebut, anak belajar mengenali emosinya dan memahami bahwa perasaan yang muncul dapat dibicarakan secara terbuka.
Sebaliknya, ketika emosi anak langsung dianggap sebagai sesuatu yang tidak penting atau harus segera dihentikan, anak dapat mengalami kesulitan dalam memahami dan mengungkapkan perasaannya. Kondisi tersebut berpotensi terbawa hingga dewasa.
Delis mengatakan, persoalan kesehatan mental pada remaja juga tidak dapat dilepaskan dari kondisi keluarga dan lingkungan pergaulan.
Ia menemukan sejumlah kasus ketika remaja harus menghadapi persoalan keluarga, termasuk perceraian orang tua. Pada saat yang sama mereka belum memiliki kemampuan yang cukup untuk mengelola tekanan emosional.
“Kalau dari rumah saja sudah tidak memvalidasi emosinya, dia akan bingung,” katanya.
Karena itu, ia mengajak orang tua untuk lebih peka terhadap perubahan perilaku dan emosi anak.
Anak yang terlihat marah, cemas, menarik diri, atau mengalami perubahan perilaku tertentu perlu diajak berkomunikasi secara terbuka agar penyebab yang mendasarinya dapat dipahami.
Dalam layanan di Puskesmas Cipadung, pasien terlebih dahulu menjalani screening untuk mengetahui kondisi yang sedang dialami.
Setelah itu, psikolog menggali lebih jauh pengalaman dan perasaan pasien melalui proses konsultasi. Delis menyebut, sebagian pasien datang dengan persoalan yang telah dirasakan selama satu hingga dua tahun.
Melalui layanan psikologis klinis yang tersedia di Puskesmas Cipadung dan 11 lainnya yang tersebar di Kota Bandung, masyarakat diharapkan semakin mudah memperoleh pendampingan profesional.
Edukasi kesehatan mental juga terus diperluas melalui sekolah dan kegiatan masyarakat agar kesadaran mengenai pentingnya kesehatan jiwa dapat tumbuh sejak dini.(dskoinf.bdg)

0 Komentar